Home  |   Profil  |   Program Keahlian  |   Guru & Staf  |   Kerjasama Industri  |   Alumni  |   Email

Surat Inspirasi Mencetak Prestasi


Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Ungkapan itu memiliki arti mencari dan menuntut ilmu sejauh apapun ilmu itu berada. Belajar memang tidak ada batasnya. Dimanapun, kapanpun, dan usia berapapun. Kondisi setiap pelajar dalam menuntut ilmu memang berbeda-beda, apalagi di masa pandemi ini. Siswa-siswi diseluruh negeri ini merasakan bagaimana suka dan dukanya pembelajaran secara daring. Tidak hanya siswa, orangtua juga merasakan suka duka pembelajaran di masa pandemi ini.

Satu dari seribu kisah perjuangan belajar, memiliki keluh kesah dan derita. Seperti gadis manis yang tinggal Pamekasan ini. Kehidupan yang tak bercukupan membuat Alfiatus merasa iba kepada ibunya. Orangtua Alifiatus adalah buruh tani, yang pendapatannya tidak menentu, namun dari pekerjaan itulah Alifiatus dan keluarganya mampu bertahan hidup sampai detik ini. Apalagi di masa pandemi ini, pembelajaran dilakukan secara daring, siswa menerima materi dari handpone maupun laptop. Bapak dan ibunya berjuang dan bekerja keras untuk membelikan handpone demi kelancaran pembelajaran putrinya di masa pandemi ini. Entah harus bagaimana dan dengan cara apa. Namun, Alifiatus dan kedua orangtuanya selalu optimis, jika niat menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan kemudahan.

Alfiatus Sholehah adalah siswi kelas 5 SDN Pademawu Barat 1 Pamekasan. Ia merupakan siswi yang memiliki rasa semangat belajar yang tinggi. Gadis yang biasanya periang ini menampakan kesedihan yang luar biasa. Rasa kecewa dan sedihnya yang tak bisa belajar seperti dulu. Alfiatuspun rindu belajar di sekolah, rindu bermain dan rindu bersenda gurau bersama guru dan teman-temannya.

Di masa pandemi ini gadis yang biasa dipanggil Fia belajar di rumah dengan peralatan yang ia punya. Masalah ekonomi adalah masalah yang selalu menghadapi kehidupan Alifiatus dan keluarga. Beban biaya yang cukup besar, harus membelikan hp dan paketan internet setiap bulannya, untuk kelangsungan pembelajaran buah hatinya. Kesadaran pentingnya pendidikkan bagi anaknya membuat beliau rela mencari pinjaman kemana-mana, agar fasilitas belajar putrinya di rumah terpenuhi walaupun dengan fasilitas yang sederhana. Belum lagi masalah yang dihadapi Alfiatus, ia tak paham dengan pemakaian teknologi di zaman sekarang. Hal itupun membuat Fia makin kesusahan dalam pelajaran online. Dalam kondisi apapun tidak membuatnya menyerah dalam meraih cita-citanya sebagai seorang dokter.

Suatu hari gadis yang kerap dipanggil Fia ini mendapatkan info mengenai lomba menulis surat bertema pengalaman belajar di masa pandemi covid-19. Lomba tersebut diadakan oleh kemendikbud, menteri pendidikkan Nadiem Makarim. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung mengambil selembar kertas serta bulpoin. Dalam selembar kertas itu ia mencurahkan semua isi hatinya, ia berharap siapa pun yang membaca surat tersebut dapat membantunya. Saat itu bertepatan dengan bulan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan, di bulan yang suci ia menulis surat dan berdoa kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berlalu.

Takdir pun berpihak pada Alifiatus. Surat yang ia tulis akhirnya dibacakan oleh menteri pendidikan Indonesia yakni Nadiem Makarim melalui akun Youtube Kemendikbud RI. "Bapak menteri saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu orang tua saya hanya buruh tani dengan adanya korona saya bingung karena belajarnya harus pakai HP Android sedangkan saya tidak punya. Saya juga merasa kasihan karena ibu saya harus cari utangan untuk membeli paket internetnya agar saya bisa belajar di rumah." Mas Menteri pun terkagum-kagum dengan isi surat yang di tulis oleh Alfiatus. " Wah, surat ini sangat bagus dan menyentuh. Saya jadi tidak sabar dengan berbicara dengan Alfiatus Sholihah."

Tak lama setelah surat itu dibacakan oleh Nadiem Makarim, Alifiatus dan keluarganya menerima bantuan dari berbagai kalangan, rasa senang terpapar di keluarga Alfiatus. Terlebih lagi dari pihak KAPOLRES Pamekasan Djoko Lestari turut membantu bocah kecil ini, dengan memberikan sebuah HP serta paket internet. Alfiatus merasa senang dengan pemberiannya tersebut, dengan begitu ia dapat kembali belajar dengan fasilitas memadai. "Saya berterima kasih karna sudah diberikan hp serta menggunakan fasilitas itu dengan baik. Dan juga saya akan rajin belajar." Ujarnya Alfiatus dengan besyukur.

Akhirnya, gadis pintar ini meraih juara III Lomba Menulis Surat untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim. Surat yang ia tulis menginspirasi banyak orang. ia berkesempatan untuk video call dan live di televisi bersama beliau, Bapak dan Ibu Alifiatus merasa senang dan bangga dengan prestasi yang diraih oleh sang buah hati. Bupati Pamekasan Baddrut Tamam pun memberikan hadiah di ruang peringgitan Mandhapa Agung Ronggosukowati Pamekasan, berupa 1 unit laptop. Beliau menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua Alfiatus Sholehah yang sudah mendidik anaknya dengan sangat baik. Apreasi lain juga diberikan kepada Fia, berupa hadiah berupa paket data gratis sebanyak 11 GB setiap bulan sampai lulus SMA dari XL Axiata Area Madura.

Dari surat yang ditulis Alfiatus memberikan pesan kepada kita semua untuk tetap semangat belajar di masa pandemi ini. Tak sedikit pula, gadis seperti Alfiatus yang banyak membutuhkan bantuan dari kita semua. Namun, bagi kita yang memiliki fasilitas belajar yang memadai itu pun sering kali mengeluh. Kita seharusnya memiliki rasa besyukur dengan apa yang kita miliki serta bekarya mencetak prestasi seperti Alfiatus Sholehah. Bagi fasilitasnya yang belum memadai tetap semangat dalam pembelajaran daring dan tetap berdoa dalam kondisi apapun. Tetap semangat belajar di manapun dan dalam konsisi apapun.

2020-08-01 - Syifa Syarifah Nurul Y.M, XI RPL 1


Artikel Lain
2020-08-16 - Fransisca Angeline S, XI RPL 1
2020-08-01 - Syifa Syarifah Nurul Y.M, XI RPL 1
SMK Semen Gresik
Jl. Arif Rahman Hakim No.90 Gresik, Jawa Timur
Telp / Fax (031) 3984836 - halo@smksemengresik.sch.id
Total Pengunjung : 57079